Biografi : Tantowi Yahya

"Intinya adalah, belajar pada orang yang pernah menjalaninya, sudah melakukannya dan sudah mencapainya, itulah kunci sukses jaman sekarang. Tidak perlu cara lain lagi, modifikasi dan diskusikan dengan mereka. Jangan sok tahu."

Tantowi Yahya yang
kerap disapa "Mr. Tiwai" dilahirkan dari keluarga yang sederhana di
kota Palembang pada 26 Oktober 1960. Mengawali karir di bidang
perhotelan sesuai dengan background pendidikannya di National Hotel and
Tourism Institute Bandung yang diselesaikannya pada tahun 1983.

Berkat
kerja keras dan kemauan belajar yang tinggi akhirnya beliau berhasil
menjadi salah satu presenter/ MC terbaik di Indonesia. Hal itu
dibuktikan dengan penghargaan yang diterimanya dari Panasonic Awards
sebagai The Most Favourite Television Quiz Host selama 2 tahun
berturut-turut (2003 dan 2004).

Pada tahun 1994 beliau
mendirikan PT. Ciptadaya Prestasi (lebih dikenal dengan Cee Pee),
sebuah rumah produksi yang melahirkan bintang-bintang baru. Tantowi
juga tercatat sebagai salah satu founder sekaligus sekretaris jenderal
Indonesian Music Awards Foundation dari tahu 1997-2001.

Keinginannya
untuk melestarikan kebudayaan Indonesia dibuktikan dengan
dikeluarkannya album berisikan lagu-lagu daerah yang akhirnya
menghantarkan Tantowi menerima penghargaan AMI-Sharp Awards sebagai
Best Ballad and Country singer pada tahun 2002. Kemudian, pada tahun
2004 AMI-Samsung Awards menganugerahinya Best Traditional Album Singer.

Tantowi
kemudian mendirikan Country Music Club of Indonesia di tahun 2003, dan
setahun kemudian METRO TV mengundangnya untuk menjadi host di acara
musik country atau yang dikenal "Goin’ Country".

Pada
tahun 2005 Tantowi diundang sebagai wakil Indonesia di Eisenhower
Fellowship, sebuah event internasional yang mempertemukan wakil-wakil
dari berbagai negara. Event tersebut dihadiri oleh para politikus,
pejabat tinggi pemerintahan ataupun pegusaha. dalam event itu, Tantowi
beliau adalah satu-satunya orang yang mempunyai background
entertainment.

Pada saat penutupan acara, Tantowi menunjukkan
kapasitasnya sebagai seorang public speaker yang handal. Ia terpilih
mewakili Asia Pasifik untuk menyampaikan pidato. Pidatonya memukau para
fellow dan para juri dengan cara berbicaranya yang lancar dan penuh
makna.

Tantowi mengatakan bahwa kesuksesan yang diperolehnya
sampai saat ini bukan karena kepandaian atau gelar akademis, akan
tetapi kesuksesan ini diperoleh karena kemampuannya untuk menjalin
hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang dan kemampuan inilah
yang diyakininya mengantarkan seseorang mencapai kesuksesan.

Keyakinan itu diperolehnya berdasarkan motto hidupnya "salah
satu kepuasan terbesar saya dalam hidup ini adalah ketika berhasil
menyampaikan persoalan yang pelik dalam bahasa yang sederhana dan
dimengerti oleh semua orang"
. Ia juga meyakini bahwa kemampuan itu
bisa dipelajari. Maka, Mr. Tiwai dan teman-teman pun mendirikan Tantowi
Yahya Public Speaking School (TYPSS).

Kini,
Tantowi sering mempromosikan sekolah kejuruan, yang selama ini dianggap
nomor dua dibanding SMU umum. Tantowi juga menjadi dinobatkan sebagai
Duta Baca Indonesia 2006 oleh Perpustakaan Nasional RI, berkaitan
dengan kegemarannya membaca.

Sekali lagi, sejalan dengan hukum
sukses yang pasti berlakunya, Tantowi juga menjalani berbagai hal dan
kejadian di dalam hidupnya dengan segala suka dan dukanya.

Modal
yang sangat penting dalam setiap upaya yang dilakukan Tantowi adalah
kerja keras. Ayahnya, adalah salah satu sosok yang menyumbang banyak
bagi perkembangan pribadinya. Lahir di sebuah keluarga yang diboleh
dibilang miskin, Tantowi diminta ayahnya untuk mengikuti kursus Bahasa
Inggris ketika ia duduk di bangku SMP.

Seorang tantowi adalah
seorang pembelajar yang cerdas. Untuk dunia presenternya, Tantowi
belajar dari para seniornya yang sudah tidak asing lagi di telinga
pemirsa televisi dan pendengar radio. Dari Koes Hendratmo, ia belajar
senyuman yang tulus. Dari Krisbiantoro, ia belajar artikulasi dan
pemilihan kata yang bermakna. Dari Bob Tutupoli, ia belajar penggunaan
Bahasa Inggris di atas panggung. Sedangkan dari Ani Sumadi, ia
mendalami seluk-beluk dunia pertelevisian. Hampir seluruhnya ia jajaki
secara otodidak.

Kunci kesuksesan seorang Tantowi Yahya
sesungguhnya ada pada mindset sukses dan semangat untuk sukses. Dan
untuk dua hal itu, berbagai kendala dan hambatan membuat Tantowi
seperti tak pernah merasakannya.

Apa yang didapatkannya sekarang
ini, sudah diimpikannya sejak dirinya masih di Sekolah Dasar.
Kebiasaannya di SD waktu itu, tiap kali mengisi biodata, ia selalu
menuliskan cita-citanya: "pingin jadi orang beken".

Sejak kecil
rasa optimisme Tanto memang sudah tebal. Bahkan ketika kecil, ia sudah
yakin hidupnya tak bakalan susah. Bayangkanlah, ketika anak-anak
seusianya di kelas dua SMA saat itu paling banter punya uang saku 500
sampai 1000 rupiah per hari, Tantowi sudah berpenghasilan dari mengajar
bahasa Inggris dengan gaji 150 ribu rupiah per bulan.

Berikut
adalah petikan wawancara anak asal Tujuh Ulu, Palembang, yang ambisius
itu, dengan Jodhi Yudono dari Kompas Cyber Media yang dimuat di Kompas
Online. Wawancara ini terjadi di tahun 2002. Perhatikan dan pelajarilah
bagaimana seorang Tantowi Yahya bisa sukses dengan mindset dan semangat
hidup yang tepat.

Sudah berapa lama Ceepee berkibar?

Ceepe
itu berdiri tahun 1994, berarti sudah memasuki usia ke delapan. Terus
terang masih jauh, agak gagal gue dalam hal itu. Dalam pengertian, gue
punya target Ceepe udah besar banget, tapi ternyata masuk ke usia
delapan ternyata tak semudah yang gue bayangkan. Jadi perusahaan gue
dari berdiri sampai sekarang ya masih segitu-gitu saja.

Terus?

Terus,
gue kepingin banget bawain Who Wants To Be a Millionaire, kejadian.
Jadi hal-hal seperti itu satu sisi cepet banget. Tapi di bisnis, gue
rasa gue nggak.

Anda dengan gampang mendapatkan itu semua, apa sih modal Anda?

Gue
itu hoki. Hoki itu adalah kombinasi dari dua hal. Kemampuan dan
peluang. Lu menjadi orang yang sangat qualified, tapi peluang tidak
ada, nggak akan jadi apa-apa. Tapi sebaliknya, peluang terbuka tapi lu
nggak siap, lu juga nggak akan bisa jadi apa-apa.

Kalau gue hoki
doang, dalam pengertian peluang doang yang gue dapat, nggak mungkin gue
bisa seperti ini. Tahun 1989 gue memang diambil oleh Bu Ani (Ani
Sumadi, produser Kuis Gita Remaja-Red), tapi kalau gue tidak qualified,
sebagai presenter, sebagai host, nggak mungkin bisa seperti sekarang.

Faktor apa yang memacu Anda memiliki kemampuan yang tidak dimiliki rata-rata anak seusia Anda waktu itu?

Jadi
yang pertama ngedrive gue itu bapak. Waktu kelas satu SMP gue dimasukin
les bahasa Inggris. Terakhir gue tahu, kenapa bapak gue masukin gue les
bahasa Inggris. Kelas I SMP gue belajar bahasa Inggris, kelas dua SMA
gue mengajar di tempat gue belajar.

Dari kecil sudah punya visi tentang kehidupan di masa depan yang lebih baik ya?

Sangat.
Lu kalau denger omongan gue, kesannya GR (Gede Rumangsa) banget. Jaman
itu kan kita suka tuker-tukeran data pribadi. Ada nama, alamat, hobby,
cita-cita, kata mutiara. Lu tahu nggak cita-cita gue? Pengin beken.
Selalu gue tulis, "pengin beken". Tapi gue sendiri nggak tahu, beken
gue itu lewat apa. Tapi gue yakin dan percaya, gue bakal beken. Gue
yakin banget, someday, gue bakal beken. Tapi gue jadi apa, gue nggak
tahu.

Nah, ketika itu terjadi di gue, ketika gue muncul di TV
dan orang kenal gue. Apa yang gue cita-citakan puluhan tahun yang lalu,
kejadian di diri gue sekarang.

Gue itu ambisius banget, loh.
Cuma gue nggak nunjukin ke orang. Dalam pengertian, gue nggak bakal
nyikut orang, gue nggak bakal matiin orang. Tapi bahwa gue punya
cita-cita yang meledak-ledak di dalam dada gue, orang nggak tahu. Tapi
ketika itu udah kejadian, gue baru cerita bahwa itu udah gue
cita-citakan lima tahun lalu.

Gue, pertama kerja itu tahun 82 di
Borobudur (Hotel Borobudur-Red) dua tahun, kemudian gue pindah ke
Hilton. Tahun 87 gue pindah ke BASF (perusahaan pita kaset-Red) sampai
tahun 94. Gue itu punya target, tahun 200 gue harus punya bisnis
sendiri, itu udah ada di benak gue. Belum sampai 2000, tahun 94 gue
udah punya usaha sendiri.

Setiap gue mencatat cita-cita gue,
haruslah reasonable. Ketika gue harus menjadi promotion manager di
sebuah perusahaan multi nasional kayak BASF, waktu itu gue hanyalah
seorang karyawan Hilton. Waktu gue ketemu dengan promotion manager
BASF, gue duduk di sini dan dia duduk di sana. Dalam hati gue bilang,
mestinya yang duduk di situ itu gue. Karena gue tahu kapasitas gue.
Alangkah indahnya kalau gue bisa jadi promotion manager perusahaan pita
kaset terbesar di Indonesia saat itu, BASF.

Tahun 87 gue masuk,
tahun 88 (akhir) gue sudah jadi promotion manager. Gue tahu banget, gue
pantes duduk di situ. Nah, gue nggak pernah cerita sama orang, apalagi
sampai ngomong, tunggu dua tahun gue bakal duduk di situ. Itu yang
menjadi dorongan bagi gua, dan gue sangat gelisah untuk mengejar itu.
Gue nggak tahu, apakah hal ini juga terjadi pada semua orang atau
nggak. Tapi gue terus berusaha dengan menambah kemampuan gue dibarengi
dengan doa agar gue pantas duduk sebagai promotion manager.

Spirit semacam itu mulai muncul sejak kapan?

Dari kecil, waktu SD.

Anda kok kayaknya dendam banget pingin jadi orang sukses?

Ya…
keluarga gue sederhana banget untuk tidak mengatakan miskin. Meskipun
keluarga gue sederhana banget, tapi gue nggak dendam. Karena apa?
Karena gue bahagia. Gue tumbuh di sebuah keluarga yang kasih sayangnya
buat kami itu penuh dari bapak sama ibu. Jadi keadaan ekonomi demikian
bukan sesuatu yang harus gue sesali dan gue benci. Tapi gue kepingin
lebih.

Gue tahu banget bahwa gue punya banyak kelebihan, dan ini
yang bakal gue manfaatkan ke depan. Jadi, sejak kecil gue juga sudah
merasa bahwa gue nggak bakal susah, hidup optimistis saja. Tapi, gue
mimpi, gue melakukan hal-hal yang menurut gue bisa. Yang gue bayangkan
adalah hal-hal yang bisa gue raih.

Masa kecil Anda seperti apa?

Gue
itu tumbuh di lingkungan di daerah Bronx kalo di Amerika. Namanya
daerah Tujuh Ulu, di Palembang. Orang itu kalau berantem itu nusuk.
Tapi Alhamdulillah, gue sama Helmi, nggak ikut mereka. Kita berkembang
dan bergaul sama mereka, menyayangi mereka, tapi kita juga punya teman
di tempat lain yang kita jadiin patokan. Orang-orang yang maju,
orang-orang yang jago musik, nah itu teman-teman kita. Gue banyak
banget berkiblat ke mereka.

Jadi gue bukannya bermaksud milih.
Gue hidup di daerah yang gitu banget, kumuh, tapi gue juga bergaul di
kelompok gedongan di daerah Menteng (kalau di Jakarta). Temen gue
banyak banget. Gue banyak belajar mengenai etiket, visi, kehidupan
modern, walaupun gue orang kampung.

Dan gue sejak kecil udah
gemar membaca. Gue kalau baca itu dari depan sampai abis. Tapi pola
baca gue dari kecil sampai sekarang itu sama. Baca koran, depan,
kemudian olahraga. Yang gue cari cuma sepakbola. Makanya kalau lu tanya
pemain bola waktu itu gue apal di luar kepala. Baru baca yang lain-lain
sampai habis. Gue itu waktu SD yang namanya gubernur se-Indonesia,
hapal.

Sekarang ini tinggal apa lagi mimpi Anda yang belum kesampaian?

Menurut
gue, gue udah puas berbicara untuk produk yang sifatnya komersial. Gue
tuh kepingin banget jadi jubir (juru bicara), tapi jubir negara. Karena
menurut gue, yang missing dari negara ini adalah, kita nggak punya
orang yang benar-benar qualified yang bisa bercerita apa adanya dengan
bahasa yang sangat luwes, yang bisa diterima pers, yang bisa diterima
oleh seluruh dunia.

Banyak dampak negatif yang terjadi di negara
ini akibat ketidakmampuan kita untuk mengutarakan itu. Semua orang
ngomong, dan lebih gila lagi kalau lu pakai interpreter. Kalau lu pakai
interpreter, kan terjadi distorsi. Lu ngomong apa, keluarnya apa. Itu
yang di quot oleh pers. Nah, one day, gue kepingin jadi seperti itu.

Seorang Tantowi Yahya, memberi contoh akurat bagi kita tentang perlunya mindset dan semangat yang tepat untuk meraih kesuksesan.

"Success is never ending; failure is never final."

6 Responses to “Biografi : Tantowi Yahya”

  1. yulsan Says:

    kepada YTH,
    DI tempat

    dengan hormat,
    bang TANTOWI YAHYA KENAPA NGGA MAJU KE PILKADA SUMSEL…..?
    JIKA BANG TANTOWI MAJU WAAAA?????????? BISA MENANG TUCH?

  2. Lastry Says:

    Assalamu’alaikum wr. wb…

    Bang Tantowi gmana sich caranya bisa jadi public speaker yang hebat??? Bagi tipsnya dong?? I want to be a good public speaker as you. Send your tups to my email addres, please?

  3. cicih Says:

    mas saya mau tanya nih..managernya mas sapa ya???kita mau ngundang untuk acara dipekanbaru…..kalo ada nama dan no hp nya email ke cicih0880@yahoo.com ya mas,……thx ya……..

  4. restusinggih Says:

    Kepada YTH,
    Di Tempat

    Assalamu’alaikum
    Bang Tantowi……… gmn cara mendidik anak dari dini, agar punya potensi , punya skill yg handal, supaya terbentuk cikal bakal yg berkualitas, menjadi sosok yg berguna bagi nusa dan bangsa serta agama,
    tolong kasih tips nya , dg modus apa , agar sy bs memberikan motivasi dan bs mengAMSUMSI interpolasi nya ke arah edukatif, tolong kirimkan ke email sy, restusinggih81@yahoo.co.id

  5. restusinggih Says:

    ASSALMU’ALAIKUM

    Kepada , YTH

    Di Tempat ;

    Bang gimana caranya ? mendidik anak , agar terbentuk cikal bakal yg berkualitas, menjadi sosok yg berpotensi , punya skill yg handal…..
    saya ingin anak anak saya seperti Bang tantowi ………, punya skill comunication, menjadi figur public yg berkualitas…., mengenai sarana pendidikan , baik formal ataupun non formal , sdh aku akomodasikan, bahkan kalau ada sarana pendidikan schooll comunication to childreen, saya ingin masukan ke program tsb. tolong BANG TANTOWI , tips tips nya , untuk memacu saya untuk memberikan motivasi pada generasi bangsa…, thanks.

  6. devi nurma yanti Says:

    asalamualaikum

    bang menurut anda gimana caranya sukses meskipun hanya dengan modal keyakinan.
    bagaimana cara kita membahagiakan orang tua sedangkan visi kita tidak sejalan dengan mereka

Leave a Reply